Cerita Mesum ML Dengan Tante Wahyu Dan Anaknya

Tiba tiba tante Wahyu meminta berhenti dipingir jalan dan merayuku untuk melakukan gituan, tante Wahyu berkata Arga ayoo dongg masak kamu gak mau ngebantu tante , tante sedang pingin nihhh” tante Wahyu dengan beraninya membuka baju di bagian atas dan terlihat payudaranya yang montok, wajah tante terlihat sange sekali.

Terlihat buah dada yang besar yang masih ditutupi oleh BH warna ungu menantang untuk disantap. MelihatArga yang tidak ada perlawanan, akhirnya Tante Wahyu memakai kembali bajunya dan duduk seperti semula sambil diam seperti patung sampai tiba di rumah. Perjalanan itu membuat Arga jadi salah tingkah dengan kelakuan tantenya itu.

Cerita Mesum ML Dengan Tante Wahyu Dan Anaknya

 Kedekatan Arga dengan Yuni semakin menjadi karena bila ada PR yang sulit Yuni selalu meminta bantuanArga. Pada saat itu Yuni mendapatkan kesulitan PR matematika. Dengan sekonyong-konyong masuk ke kamarArga.


Pada saat itu Ari baru keluar dari kamar mandi sambil merenungkan tentang kelakuannya tadi siang dengan Tante Wahyu yang menolak melakukan itu.Arga keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benang pun yang menutupinya.

Dengan jelas Yuni melihat batang kemaluanArga yang mengerut kedinginan. Sambil menutup wajah dengan kedua tangannya, Yuni membalikkan badannya.

Arie hanya tersenyum sambil berkata,

“Mangkanya, kalau masuk kamar ketok pintu dulu,” goda Arga sambil menggunakan celana pendek tanpa celana dalam. Kebiasaan itu dilakukan agar batang kemaluannya dapat bergerak dengan nyaman dan bebas.

Arie bergerak mendekati Yuni dan mencium pundaknya yang sangat putih dan berbulu-bulu kecil.


“Ahh, geli KakArga.. KakArga sudah pake celana yah,” tanya Yuni.

“Belum,” jawabArga menggoda Yuni.

“Ahh, cepet dong pake celananya. Yuni mau minta tolong KakArga mengerjakan PR,” rengek Yuni sambil tangan kirinya meraba belakangArga.


Melihat rabaan itu,Arga segaja memberikan batang kemaluannya untuk diraba. Yuni hanya meraba-raba sambil berkata,

“Ini apa Kak, kok kenyal.”


Mendapat rabaan itu batang kemaluanArga semakin menengang dan dalam pikirannya kalau dengan Yuni aku mau tapi kalau dengan kakakmu meskipun sama-sama cantiknya tapi aku juga masih punya pikiran yang betul, masa tenteku digarap olehku.

Rabaan Yuni berhenti ketika batang kemaluanArga sudah menegang setengahnya dan ia melepaskan rabaannya dan langsung membalikkan badannya.Arga kaget dan hampir saja tali kolornya yang terbuat dari karet, menjepit batang kemaluannya yang sudah menegang.


Tangan yang tadi digunakan meraba batang kemaluanArga kembali digunakan menutup wajahnya dan perlahan Yuni membuka tangannya yang menutupi wajahnya dan terlihatArga sudah memakai celana pendek.

“Nah, gitu dong pake celana,” kata Yuni sambil mencubit dadaArga yang menempel di susu kecil Yuni. “Udah dong meluknya,” rintih Yuni sambil memberikan buku Matematikanya.


Saling memeluk antara Arga dan Yuni sudah merupakan hal yang biasa tetapi ketikaArga merasakan kenikmatan dalam memeluk Yuni, Yuni tidak merasakan apa-apa mungkin karena Yuni masih anak ingusan yang badannya saja yang bongsor.

Arie langsung naik ke atas ranjang besarnya dan bersandar di bantal pojok ruangan kamar itu. Meskipun ada meja belajar tapi Arga segaja memilih itu karena Yuni sering menindihnya dengan pantatnya sehingga batang kemaluan Arga terasa hangat dibuatnya.

Dan memang seperti dugaan Arga, Yuni tiduran di dada Arga. Pada saat itu Yuni menggunakan daster yang sangat tipis dan di atas paha sehingga celana dalam berwarna putih dan BH juga yang warna putih terlihat dengan jelas.

Yuni tidak merasa risih dengan kedaan itu karena memang sudah seperti itu hari-hari yang dilakukan bersama Arga.


Sambil mengerjakan PR, pikiran Arga melayang-layang bagaimana caranya agar ia dapat mengatakan kepada Yuni bahwa dirinya sekarang berubah hati menjadi cinta pada Yuni. Tapi apakah dia sudah mengenal cinta soalnya bila orang sudah mengenal cinta biasanya syahwatnya juga pasti bergejolak bila diperlakukan seperti yang sering dilakukan oleh Arga dan Yuni.
 
PR pertama telah diselesaikan dengan cepat, Yuni terseyum gembira. Terlihat dengan jelas payudara Yuni yang kecil. Pikiran Arga meliuk-liuk membayangkan seandainya ia mampu meraba susu itu tentunya sangat nikmat dan sangat hangat.

Ketegangan Arga semakin menjadi ketika batang kemaluannya yang tanpa celana dalam itu tersentuh oleh pinggul Yuni yang berteriak karena masih ada PR-nya yang belum terisi. Memang posisi Arga menerangkan tersebut ada di bawah Yuni dan pinggul Yuni sering bergerak-gerak karena sifatnya yang agresif.


Gerakan badan Yuni yang agresif itu membuat paha putihnya terlihat dengan jelas dan kadangkala gumpalan kemaluannya terlihat dengan jelas hanya terhalang oleh CD yang berwarna putih. Hal itu membuat nafasArga naik turun.

Yuni tidak peduli dengan apa yang terjadi pada batang kemaluan Arga, malah Yuni semakin terus bermanja-manja dengan Arga yang terlihat bermalas-malasan dalam mengerjakan PR-nya itu.

Pikiran Arga semakin kalang kabut ketika Yuni mengerak-gerakkan badan ke belakang yang membuat batang kemaluannya semakin berdiri menegang.

Dengan pura-pura tidak sadar Arga meraba gundukan kemaluan Yuni yang terbungkus oleh CD putih. Bukit kemaluan Yuni yang hangat membuat Arga semakin bernafsu dan membuat nafasnya semakin terengah-engah.

“Kak cepat dong kerjakan PR yang satunya lagi. Yang ini, yang nomor sepuluh susah.”


Arie membalikkan badannya sehingga bukit kemaluan Yuni tepat menempel di batang kemaluan Arga. Dalam keadaan itu Yuni hanya mendekapArga sambil terus berkata,

“Tolong ya Kak, nomor sepuluhnya.”

“Boleh, tapi ada syaratnya,” kata Arga sambil terus merapatkan batang kemaluannya ke bukit kemaluan Yuni yang masih terbungkus CD warna Putih.


Pantat Yuni terlihat dengan jelas dan mulai merekah membentuk sebuah badan seorang gadis yang sempurna, pinggul yang putih membuat Arga semakin panas dingin dibuatnya. Yuni hanya bertanya apa syaratnya kata Yuni sambil mengangkat wajahnya ke hadapanya Arga.

Dalam posisi seperti itu batang kemaluan Arga yang sudah menegang seakan digencet oleh bukit kemaluan Yuni yang terasa hangat. Arga tidak kuat lagi dengan semua itu, ia langsung mencium mulut Yuni. Yuni hanya diam dan terus menghidar ciuman itu.

“Kaak.. apa dong syaratnya”, kata Yuni manja agresif menggerak-gerakkan badannya sehingga bukit kemaluannya terus menyentuh-nyentuh batang kemaluan Arga. Gila anak ini belum tahu apa- apa tentang masalah seks. Memang Yuni tidak merasakan apa-apa dan ia seakan-akan bermain dengan teman wanitanya tidak ada rasa apa pun.

“Syaratnya kamu nanti akan kakak peluk sepuasnya.”

 Mendengar itu Yuni hanya tertawa, suatu syarat yang mudah, dikirain harus pus-up 1000 kali.


Konsenterasi Arga dibagi dua yang satu terus mendekatkan batang kemaluannya agar tetap berada di bawah bukit kemaluan Yuni yang sering terlepas karena Yuni yang banyak bergerak dan satunya lagi berusaha menyelesaikan PR-matematikanya. Yuni terus mendekap badan Arga sambil kadang-kadang menggerakkan lipatan pahanya yang menyetuh paha Arga.

Setelah selesai mengerjakan PR-nya,Arga menggerak-gerakkan pantatnya sehingga berada tepat di atas bukit kemaluan Yuni.

Cerita Mesum ML Dengan Tante Wahyu Dan Anaknya

Arga semakin tidak tahan dengan kedaan itu dan langsung meraba-raba pantat Yuni. Ketika Arga akan meraba payudara Yuni. Yuni bangkit dan terus melihat ke wajah Arga, sambil berkata, “PR-nya sudah Kaak.. Arga,” sambil Menguap.


Melihat PR-nya yang sudah dikerjakan Arga, Yuni langsung memeluk Arga erat-erat seperti memeluk bantal guling karena syaratnya itu. Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh Arga begitu saja, Arga langsung memeluk Yuni berguling-guling sehingga Yuni sekarang berada di bawah Arga.

Mendapat perlakuan yang kasar dalam memeluk itu Yuni berkata, “Masa Kakak meluk Yuni nggak bosan-bosan.” Berbagai alasan Arga lontarkan agar Yuni tetap mau di peluk dan akhirnya akibat gesekan-gesekan batang kemaluan Arga bergerak-gerak seperti akan ada yang keluar, dan pada saat itu Yuni berhasil lepas dari pelukan Arga sambil pergi dan tidak lupa melenggokkan pantatnnya yang besar sambil mencibirkan mulutnya.

“Aduh, Gila si Yuni masih tidak merasakan apa-apa dengan apa yang barusan saya lakukan,” guman Arga dalam hati sambil terus memengang batang kemaluannya. Arga berusaha menetralisir batang kemaluannya agar tidak terlalu tegang.

“Tenang ya jago, nanti kamu juga akan menikmati kepunyaan Yuni cuma tinggal waktu saja. Nanti saya akan pura-pura memberikan pelajaran Biologi tentang anatomi badan dan di sanalah akan saya suruh buka baju. Masa kalau sudah dibuka baju masih belum terangsang.”


Arie memang punya prinsip kalau dalam berhubungan badan ia tidak mau enak sediri tapi harus enak kedua-duanya. Itulah pola pikir Arga yang terus ia pertahankan. Seandainya ia mau tentunya dengan gampang ia memperkosa Yuni.

Ketegangan batang kemaluan Arga terus bertambah besar tidak mau mengecil meskipun sudah diguyur oleh air. Untuk menghilangkan kepenatan Arga keluar kamar sambil membakar sebatang rokok. Ternyata Tante Wahyu masih ada di ruang tengah sambil melihat TV dan meminum susu yang dibuatnya sendiri.

Tante Wahyu yang menggunakan daster warna biru dengan rambut yang dibiarkan terurai tampak sangat cantik malam itu. Lekukan tubuhnya terlihat dengan jelas dan kedua payuadaranya pun terlihat dengan jelas tanpa BH, juga pahanya yang putih dan mulus terpampang indah di hadapannya.

Keadaan itu terlihat karena Tante Wahyu duduk di sofa yang panjang dengan kaki yang putih menjulur ke depan.

KetengananArga semakin memuncak melihat keidahan tubuh Tante Wahyu yang sangat seksi dan mulus itu.

“Kamu kenapa belum tidur Ari,” kata Tante Wahyu sambil menuangkan segelas air susu untuk Arga.

“Anu Tante, tidak bisa tidur,” balasArga dengan gugup.


Memang Tante Wahyu yang cantik itu tidak merasa canggung dengan keberadaan Arga, ia tidak peduli dengan keberaan Arga malah ia segaja memperlihatkan keindahan tubuhnya di hadapan Arga yang sudah sangat terangsang.

“Maaf ya, Tante tadi siang telah berlaku kurang sopan terhadap Arga.”

“Tidak apa-apa Tante,Arga mengerti tentang hal itu,” jawab Arga sambil terus menahan gejolak nafsunya yang sudah diluar batas normal ditambah lagi dengan perlakuan Yuni yang membuat batang kemaluannya semakin menegang tidak tentu arah.

“Oom ke mana Tante, kok tidak kelihatan,” tanya Arga mengisi perbincangan.
“Kamu tidak tahu, Oom kan sedang ke Bali mengurus proyek yang baru,” jawab Tante Wahyu.


Memang Om Budiman sangat jarang sekali ada di rumah dan itu membuat Ari semakin tahu akan kebutuhan batin Tante Wahyu, tapi itu tidak mungkin dilakukannya dengan tantenya.


Arga dan Tante Wahyu duduk di sofa yang besar sambil sesekali tubuhnya digerak-gerakkan seperti cacing kepanasan. Tak diduga sebelumnya oleh Arga, Tante Wahyu membuka dasternya yang menutupi paha putihnya yang putih bersih sambil menggaruk-garukkan tangannya di seputar gundukan kemaluannya.

Mata Arga melongo tidak percaya. Dua kali dalam satu hari ia melihat paha Tante Wahyu, tapi yang ini lebih parah dari yang tadi siang di dalam mobil, sekarang Tante Wahyu tidak menggunakan celana dalam.


Kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu yang hitam tersingkap dengan jelas dan tangan Tante Wahyu terus menggaruk-garuk di seputar kemaluannya itu karena merasa ada yang gatal.

Melihat itu Arga semakin gelisah dan tidak enak badan ditambah lagi dengan ketegangan di batang kemaluannya yang semakin menegang.

“Kamu kenapa Arga,” tanya Tante Wahyu yang melihat wajahArga keluar keringat dingin.

“Nggak Tante,Arga cuma mungkin capek,” balas Arga sambil terus sekali-kali melihat ke pangkal paha putih milik Tante Wahyu.


Setelah merasa agak baikan di sekitar kemaluannya, Tante Wahyu segaja tidak menutup pahanya, malah ia duduk bersilang sehingga terlihat dengan jelas pangkal pahanya dan kemaluannya yang merekah.

Melihat Arga semakin menegang, Tante Wahyu tersenyum dan mempersilakan Arga untuk meminum susu yang dituangkan di dalam gelas itu.

Ketegangan Arga semakin memuncak dan Arga tidak berani kurang ajar pada tantenya meskipun tahu bahwa tantenya segaja memperlihatkan kemulusan pahanya itu.

“Tante, saya mau ke paviliun belakang untuk mencari udara segar.”


Melihat Arga yang sangat tegang itu Tante Wahyu hanya tersenyum, dalam pikirannya sebentar lagi kamu akan tunduk padaku dan akan meminta untuk tidur denganku.

Sebelum sampai ke paviliun belakang Arga jalan-jalan dulu di pinggiran kolam lalu ia duduk sambil melihat kolam di depannya. Sambil terus berusaha menahan gejolaknya antara menyetubuhi tantenya atau tidak. Sambil terus berpikir tentang kejadian itu.

Tidak segaja ia mendegar rintihan dari belakang yang kebetulan kamar Pak Dadi. Arga terus mendekati kamar Pak Dadi yang kebetulan dekat dengan Paviliun. Arga mengendus-endus mendekati jendela dan ternyata jendelanya tidak dikunci dan dengan mudah Arga dapat melihat adegan suami istri yang sedang bermesraan.

Di dalam kamar yang berukuran cukup besar itu,Arga melihatnya leluasa karena hanya terhalang oleh tumpukan pakaian yang digantung dekat jendela itu. Di dalamnya ternyata Pak Dadi dengan istrinya sedang bermesraan. Istri Pak Dadi yang bernama Astri sedang asyik mengulum batang kejantanan Pak Dadi dengan lahapnya.

Dengan penuh birahi Astri terus melahap dan mengulum batang kemaluan Pak Dadi yang ukurannya lebih kecil dari ukuran yang dimiliki Arga. Astri terus mengulum batang kemaluan Pak Dadi.

Posisi Pak Dadi yang masih menggunakan pakaian dan celananya yang telah merosot ada di lantai dengan posisi duduk terus mengerang-erang kenikmatan yang tiada bandingnya sedangkan Astri jongkok di lantai.


Terlihat Astri menggunakan CD warna hitam dan BH warna hitam. Erangan-erangan Pak Dadi membuat batang kemaluan Pak Dadi semakin mesra di kulum oleh Astri.

Dengan satu gerakan Astri membuka daster yang dipakainya karena melihat suaminya sudah kewalahan dengan kulumannya. Terlihat dengan jelas buah dada yang besar masih ditutupi BH hitamnya.

Pak Dadi membantu membuka BH-nya dan dilanjutkan dengan membuka CD hitam Astri. Astri yang masih melekat di bandan Pak Dadi meminta Pak Dadi supaya duduk di samping ranjang. Lalu Pak Dadi menyuruh Astri telentang di atas ranjang dan pantatnya diganjal oleh bantal sehingga dengan jelas terlihat bibir kemaluan Astri yang merah merekah menantang kejantanan Pak Dadi.



Sebelum memasukkan batang kemaluannya, Pak Dadi mengoleskan air ludahnya di permukaan bukit kemaluan Astri. Dengan kaki yang ada di pinggul Pak Dadi, Astri tersenyum melihat hasil karyanya yaitu batang kemaluan suaminya tercinta telah mampu bangkit dan siap bertempur.

Dengan perlahan batang kemaluan Pak Dadi dimasukkan ke dalam liang kemaluan Astri, terlihat Astri merintih saat merasakan kenikmatan yang tiada tara, kepala Astri dibolak-balikkan tanpa arah dan tangannya terus meraba-raba dada Pak Dadi dan sekali-kali meraba buah dadanya.


Memang beradunya batang kemaluan Pak Dadi dengan liang senggama Astri terasa cukup lancar karena ukurannya sudah pas dan kegiatan itu sering dilakukannya. Erangan-erangan Astri dan Pak Dadi membuat tubuh Arga semakin Panas dingin.

Entah sudah berapa menit lamanya Tante Wahyu memainkan kemaluan Arga yang sudah menegang, ia tersenyum ketika tahu bahwa di belakangnya ada orang yang sedang memegang kemaluannya.


“Tante, kapan Tante datang”, suara Arga perlahan karena takut ketahuan oleh Pak Dadi sambil berusaha menjauh dari tempat tidur Pak Dadi.


Tangan Tante Wahyu terus menggandengArga menuju ruang tengah sambil tangannya menyusup pada kemaluanArga yang sudah menegang sejak tadi.

Sesampainya di ruang tengah, Arga duduk di tempat yang tadi diduduki Tante Wahyu, sementara Tante Wahyu tiduran telentang sambil kepalanya ada seputar pangkal paha Arga dengan posisi pipi kanannya menyentuh batang kemaluan Arga yang sudah menegang.

“Kamu kok orang yang sedang begituan kamu intip, nanti kamu jadi panas dingin dan kalau sudah panas dingin susah untuk mengobatinya. Untung saja kamu tadi tidak ketahuan oleh Pak Dadi kalau kamu ketahuan kamu kan jadi malu. Apalagi kalau ketahuan sama Oommu bisa-bisa Tante ini, juga kena marah.”


Tante Wahyu memberikan nasehat-nasehat yang bijak sambil kepalanya yang ada diantara kedua selangkanganArga terus digesek-gesek ke batang kemaluanArga.

“Tante tahu kamu sekarang sudah besar dan kamu juga tahu tentang kehidupan seks. Tapi kamu pura-pura tidak mau,” goda Tante Wahyu, “Dan kamu sudah tahu keinginan Tantemu ini, kamu malah mengintip kemesraan Pak Dadi,”


Nasehat-nasehat itu terus terlontar dari bibir yang merah merekah, dilain pihak pipi kirinya digesek-gesekkan pada batang kemaluanArga.

Arie semakin tidak dapat lagi menahan gejolak yang sangat tinggi dengan tekanan voltage yang berada diluar batas kemanusiaan.

“Tante jangan gitu dong, nanti saya jadi malu sama Tante apalagi nanti kalau oom sampai tahu.”


Mendengar elakanArga, Tante Wahyu malah tersenyum,

“Dari mana Oommu tahu kalau kamu tidak memberitahunya.”


Gila, dalam pikiraanku mana mungkin aku memberitahu Oomku. Gerakan kepala Tante Wahyu semakin menjadi ditambah lagi kaki kirinya diangkat sehingga daster yang menutupi kakinya tersingkap dan gundukan hitam yang terawat dengan bersih terlihat merekah.

Bukit kemaluan Tante Wahyu terlihat dengan jelas dengan ditumbuhi bulu-bulu yang sudah dicukur rapi sehingga terlihat seperti kemaluan gadis seumur Yuni.

Cerita Mesum ML Dengan Calon Bintang Sinetron


Arie sebetulnya sudah tahu akan keinginan Tante Wahyu. Tapi batinnya mengatakan bahwa dia tidak berhak untuk melakukannya dengan tantenya yang selama ini baik dan selalu memberikan kebutuhan hidupnya.

Tanpa disadari tantenya sudah menaikkan celana pendeknya yang longgar sehingga kepala batang kemaluanArga terangkat dengan bebas dan menyentuh pipi kirinya yang lebut dan putih itu. Melihat Keberhasilanya itu Tante Wahyu membalikkan badan dan sekarang Tante Wahyu telungkup di atas sofa dengan kemaluannya yang merekah segaja diganjal oleh bantal sofa.


Related Posts

Cerita Mesum ML Dengan Tante Wahyu Dan Anaknya
4/ 5
Oleh